SEJARAH DESA

 

 

  1. BABAD DESA

Pada Pertengahan Abad 18-19 atau Tahun 1860, datanglah seorang bernama Pak Sowidjoyo dengan beberapa pengikutnya serta anak dan istrinya. Semua itu berasal dari Karisidenan Surokarto (Solo), Desa Bayat atau Tembayat Kab.Klaten Jateng pada suatu tempat yang letaknya dibatasi oleh :

Sebelah Utara Desa Popoh

Sebelah Timur dan Selatan Sungai Bambang

Sebelah Barat Desa Ploso dan Popoh

Pada waktu itu tempat tersebut masih merupakan hutan belukar dan termasuk daerah Desa dan Onderdistrik (Kecamatan) Popoh.

Adapun yang menjabat Asisten Wedono Popoh pada waktu itu ialah Raden Adikoesoemo dan Kepala Desanya Sdr. Poncolesono.

Mengingat bahwa ditempatnya semula (Di Solo) sudah tidak mempunyai tanah pekarangan, Maka Pak Sowidjoyo tadi lalu berhajat membabad hutan, perlu akan dibikin pedukuhan.

Maka dari itu Pak Sowidjoyo dengan semua kawan-kawanya terus membabad hutan tersebut.

Sesudah sepuluh tahun berselang, babadan tadi lalu diumumkan menjadi pedukuhan dan digabungkan ke kelurahan Desa Popoh.

Pedukuhan baru tersebut oleh penduduknya yang lebih kurang 10 Somah dan karena disitu ada sungainya kecil yang Timpo-Timpo dibikin mandi oleh seorang yang dianggap Keramat, Maka dari itu pedukuhan tersebut lalu dinamakan Dukuh Siraman. Karena sungai tersebut tempat pemandian = Pasiraman = Siraman.

Buktinya begini : Jika orang tersebut di waktu mandi, lalu ada orang lain yang mandi dekat arah bawah mengalirnya sungai tadi, lantas seketika itu juga, orang yang mandi diarah bawah tadi menjadi Sakti. Boleh dikatakan dalam bahasa Jawa Segti tanpa meguru. Dan orang yang di anggap keramat tersebut bernama Setiyakti.

Jadi Nama Desa Siraman itu asal  mulanya dari kata Pasiraman, dan pada jaman itu Tahun 1870.

  1. Bebau-Bebau atau Pamongnya

Pada waktu itu Tahun 1870 yang mengetuai Dukuhan tersebut Kamituwo, seorang anak menantunya Pak Sowidjoyo bernama Karyosemito.

Kamituwo Karyosemito lamanya 3 tahun, ialah mulai Tahun 1870 sampai Tahun 1873. pada waktu itu belum ada peraturan Bebau mendapat Bengkok. Yang dibikin upah hanya tanah-tanah babadan (bukaan) orang lain yang ditinggal pergi lari saja atau di buat tanah anginan. Jadi yang menjabat Kamituwo juga tak tahan lama. Rata-Rata hanya sampai tiga tahun lalu ganti baru.

Sesudah Kamituwo Karyosemito menjabat Kamituwo selama tiga tahun, lalu di ganti oleh seorang iparnya Sowidjoyo bernama Sokromo. Kamituwo Sokromo berdiri mulai tahun 1873 sampai 1876.

Tiga tahun berjalan Kamituwo Sokromo datang saatnya lalu berhenti dan diganti oleh anaknya laki-laki Pak Sowidjoyo, bernama Nayokromo.

Nayokromo menjabat kamituwo mulai tahun 1876 sampai Tahun 1880. empat tahun berselang lagi, ialah pada Tahun 1880. empat tahun berselang lagi, ialah pada tahun 1884 diganti oleh anak menantunya bernama Wongsokaryo. Lamanya menjabat Kamituwo enam tahun. Yaitu pada Tahun 1884 sampai Tahun 1890.

Sesudah itu anak-anaknya Pak Sowidjoyo tak ada yang mengajukan diri untuk menjadi Kamituwo. Maka dari itu lalu diganti familinya lagi bernama Singosemito. Dia mendapat pilihan dobel sehingga delapan Tahun menjadi kamituwo dan diberi surat kuasa oleh Tuan Asisten Wedono Popoh untuk menarik pajak dan menyetorkan sendiri ke Kas Negara.

Pada tahun 1898 Kamituwo Singosemito berhenti karena sudah tua, lalu diganti oleh seorang lainnya bernma Khasan Besari. Ia menjabat Kamituwo hanya satu tahun, ialah mulai Tahun 1897 sampai tahun 1899.

Pada Tahun 1899 lalu diganti oleh seorang lainnya bernama Singowijoyo. Sesudah dua tahun berjalan, Kamituwo Singowijoyo, ialah pada tahun 1901 berhubung Dukuh Siraman sudah kelihatan agak luas dan cukup penduduknya untuk didirikan Kepala Desa Sendiri, lalu oleh yang berwajib dikumpulkan antara orang-orang penduduk dari dukuh-dukuhan lainnya yang berdekatan, ialah dukuh Cimpling, dukuh Bambang, dan dukuh Karangsono yang diketuai oleh Kamituwo atau Kebayan yang tadinya juga masuk daerah Desa Popoh.

Maka dari itu berduyun-duyunlah penduduk dari empat dukuhan tersebut lebih kurang berjumlah 250 somah dan diadakan pilihan Kepala Desa.

Yang mengetuai kumpulan / rapat tadi Kamituwo Singowijoyo.

III. Kepala Desa Kepala Desa Siraman

Diantara empat orang Kamituwo serta jago jago lainnya, maka Kamituwo Singowijoyolah yang terpilih menjadi Kepala Desa Siraman.

Jadi Singowijoyo boleh dikatakan Kepala Desa Siraman yang pertama. Pada waktu itu tahun 1901.

Sejak waktu itu Dukuh Siraman lalu menjadi Desa Krajan, serta masuk daerah Ondner Distrik Wlingi, Kawedanan Wlingi, Kabupaten Blitar dan Karisidenan Kediri.

Desa Siraman meliputi Empat Dukuhan, Yakni 1. Siraman 2. Cimpling 3. Bambang dan 4. Karangsono.

Sebelum kami menceritakan hal-hal yang agak perlu bagi peringatan lebih dahulu kami uraikan mengenai berturut-turutnya pemegang pemerintahan (Kepala desa), yaitu : 1. Sdr. Singowijoyo 2. Sdr. Khasanbesari 3. Sdr. Molyohardjo. 4. Sdr. Soredjo. 5. Sdr. Somoprawiro. 6. Kami Soerowidjojo.7.Riyanto 8.Imam Rokhani 9.Choiri  10.Eko joko susilo  11.Budi Arif Rochman.

Selanjutnya kami terangkan tentang berdirinya Kepala Desa masing-masing.

Singowidjojo menjabat kepala desa lebih kurang hanya dua tahun, karena di sebabkan kurang hati-hati soal memegang uang, jadi terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1903 (mulai tahun 1901 sampai tahun 1903).

Selanjutnya diadakan pilihan Kepala Desa lagi dan yang terpilih yalah Cariknya, yaitu Khasanbesari sampai 16 tahun (Mulai tahun 1903 sampai tahun 1919).

Berhubung Khasanbesari tersebut sudah tua usianya, lalu meletakkan jabatannya dan diganti oleh menantunya bernama Mulyohardjo. Mulyohardjo menjabat Kepala desa selama empat tahun. Mulai tahun 1919 sampai tahun 1923.

Sesudahnya lalu diganti oleh seorang Kebayan bernama Soredjo. Soredjo menjabat Kepala desa selama delapan tahun. (Mulai tahun 1923 sampai tahun 1931).

Sesudahnya itu lalu diganti oleh seorang cariknya (seorang anak laki-laki kepala desa yang ke 2 Bapak khasanbesari) bernama Somoprawira.

Somoprawira menjabat Kepala desa selama delapan belas tahun (Mulai tahun 1931 sampai tahun 1949).

Pada tanggal 12 bulan Juli tahun 1949, Somaprawira meletakkan jabatan dan pada tanggal, 13 bulan Juli tahun 1949 diadakan Pilihan Kepala desa lagi.

Berhubung pada waktu itu (pada 1949) masih didalam keadaan Pancaroba (Agresi Belanda Ke II), Pilihan Kepala desa tersebut diadakan dilain desa, ialah didesa Pagerwojo Kesamben, tiba-tiba yang terpilih menjadi kepala desa saya/ Soerowidjojo Carik anak menantu cucu Singosemito Kamituwo yang ke IV.

Kemudian kami sebagai Kepala Desa yang terakhir pada waktu mengarang Buku Sejarah ini.

  1. Tanahnya

Desa Siraman terdiri dari tanah sawah dan tanah kering/darat. Luas tanah pada waktu tahun 1901 + 500 bau, berpajak sebesar Rp. 1.024,-

Penduduknya semua suku Bangsa Jawa, Berjumlah 1200 jiwa atau 250 somah pada tahun 1901. semua pamong desa mendapat Bengkok tetap.

Pada tahun 1903, jaman dikepalai oleh Khasan besari luas tanah tetap + 500 bau. Pajak tetap Rp. 1.024,- Penduduknya bertambah banyak berjumlah 2200 jiwa (450 somah). Ini menurut perhitungan dalam tahun 1911.

Pada tahun 1912 Desa Siraman diadakan Klassiran oleh yang berwajib. Akan tetapi berhubung arsif-arsifnya luas tanah sudah tidak ada/tidak ketemu, disini kami tak dapat menguraikan yang jelas tentang perubahan luasnya tanah pada Klassiran pertama.

Klassiran Kedua

Dalam tahun 1929-1930 datanglah saatnya Klassiran yang kedua. Perhitungan luas tanah memakai BAU. Satu bau = 500 ru persegi. Di waktu itu desa Siraman terdapat perhitungan luas tanah sawah 299.118 bau. Tegal dan pekarangan 245.050 bau. Luas tanah semua ada 544.168 bau. Besarnya pajak Rp. 3387,53.

Jumlah Penduduk

Jiwa Penduduk pada waktu tahun 1930 ada 503 rumah atau 550 somah = 2793 orang.

Jiwa ternak 280 ekor sapi. 76 ekor kerbau dan dua ekor kuda.

Selanjutnya disini kami melanjutkan soal Klassiran. Pada tahun 1937 tibalah saatnya Klassiran yang ke III, dengan memakai perhitungan Hektar. 1 Hektar = 100 are = 10.000 m2 = 700 ru. Disitu desa Siraman terdapat ukuran luas tanah sebagai berikut.

Tanah sawah                               197.325 hektar

Tanah tegal dan pekarangan       198.805 hektar

Jumlah                                       387.130 hektar

Pajaknya Rp. 1670,57

 

Jiwa Penduduk pada waktu itu tahun 1937 ada 2850 orang atau 572 somah.

Jiwa ternak besar ada 371 ekor lembu, 55 ekor kerbau dan 3 ekor kuda.

Sesudah Klassiran yang ke III tahun 1937 hingga membuatnya Buku Sejarah ini tahun 1955 belum ada Klassiran lagi. Maka dari itu perhitungan luas tanah desa boleh dibilang masih tetap, berubah karena menurut nilai yang kursnya dalam waktu inflantasi (Malaise).

Sebagaimana terdapat pada tahun 1932. karena jaman Malaise, pajak dapat dikurangi 15% dan pada tahun 1949 karena inflantase, pajak meningkat hingga 10x baku.

Adapun pada saat yang kami terima ini (tahun 1949/ luas tanah desa Siraman masih tetap sebagao berikut :

Luas sawah             =                    197.325 h

Luas pekarangan     =                    175.805 h

Jumlah                     =                    387.130 h

Besarnya pajak waktu dibayar dengan uang ORI  Rp. 16.705,40

Jiwa penduduk asli 698 somah atau 3606 orang

Jiwa ternak besar 224 ekor lembu 34 ekor kerbau dan seekor kuda.

Cukup sekianlah kiranya uraian kami mengenai perubahan luas tanah, pajak, jiwa orang dan ternak.

  1. Pembangunan

Pada pertengahan Tahun 1880, pendukuhan Karangsono Desa Siraman mulai dipasang Rail Ban (Rel KA) untuk perjalanan lalu lintas kereta api jurusan Wlingi Kesamben – Malang Blitar.

Pada Tahun 1914 disungai Bambang di dukuh Bambang dipasang Jembatan umum, oleh propinsi Werkur (DGK) = Jawatan Pekerjaan umum. Sedang sebelumnya hanya dapat diseberangi dengan menggunakan Tambangan (Ghethek) saja.

Pada tahun 1883 Desa Siraman dapat pengambilan air dari 8 sungai TIKO DAN LEGSO (Dam Dermen) Ngadirenggo. Sebab itu Desa Siraman mulai dapat mencetak tanah untuk dibuat sawah.

Pada tahun 1922 di Desa Siraman dibuka Sekolahan Rakyat Kelas III, yang selanjutnya dijadikan Sekolahan Rakyat VI  pada tahun….

Pada tahun 1938 sungai Cimpling dipasang Buk.

Pada tahun 1940 selokan selokan urusan air untuk dibuat menggenangi sawah-sawah Ds Siraman dan sawah-sawah pendukuhan dibuatkan DAM.

Pada tahun 1953-1955 sedikit ada pembangunan dam-dam dan Buk-buk desa.

Pada tahun 1955 didirikan sebuah sekolahan Raudlatun Nasi’in (Madrasah).

Lain dari pada itu seluruh desa Siraman ada 3 buah Masjid 1. Siraman wetan kali. 2. Dukuh Cimpling dan 3 Dukuh Bambang. Langgar (Mushola) terhitung banyak. (ini keadaan pada tahun 1955).

 

Pada Pertengahan Tahun 1949

Pada pertengahan tahun 1949, Jembatan umum disungai Bambang (Jembatan buatan Tahun 1914 dirusak/ di Bom oleh anggota T.N.I Brigade 16. karena pada waktu itu jaman Gerilya dan pada akhir tahun 1949 Jembatan tersebut diperbaiki dan di pasang jembatan sementara oleh Tentara Belanda Bagian Seni.

Pada tahun 1950 Jembatan tersebut di bangunan kembali dan diperkuat oleh DPU (Jawatan Pekerjaan Umum). Ketika jaman gerilya, jalan kereta Apipun dirusak juga. Tetapi sesudah aman (Habis Gerilya) dibangun juga.

Kemudian kami cukupi sekian tentang Pembangunan, selanjutnya kami mengguraikan tentang keadaan yang lain-lain.

 

 

 

  1. Desa dan Dukuhan

 

Desa Siraman terbelah menjadi dua oleh sungai Cimpling. 1 Siraman kulon kali, 2 Siraman wetan kali.

Penduduknya Siraman kulon kali kebanyakan berasal dari daerah Surokarto/Solo. Penghasilannya yang terbesar bercocok tanam dan sedikit ada yang membuat minyak kelapa untuk dijual. (Klentikan) Agamanya Agama Islam.

Penduduk Siraman wetan kali kebanyakan berasal dari daerah Ngayogyokarto/Mataram. Penghasilannya yang terbebsar bercocok tanam. Ada sebagian kecil yang membuat dagangan capar kedelai dan kacang ijo serta kacang tunggak. Agamanya agama Islam.

Di Siraman wetan kali ada Rawa kecil yang disebut Kedung.

Selanjutnya meningkat mengenai Dukuhan Cimpling. Dukuh Cimpling asal mulanya mengambil dari tempat tersebut banyak terdapat tumbuhan lombok ranita atau lombok impling. Karena dibabadan tadi banyak tumbuh lombok impling lalu pedukuhannya dinamakan Dukuh Cimpling. Dan sungai kecil dari Siraman yang sembonannya ada di didukuh Cimpling, maka sungai tersebut juga dinamakan sungai Cimpling.

Adapun penduduknya berasal dari daerah Kabupaten Ponorogo dan Pacitan. Penghasilannya bercocok tanam dan nukang kayu. Agamanya agama Islam.

 

Sekarang mengenai Dukuh Bambang

Asal mulanya nama itu mengambil dari nama sungai yang mengalir di dukuhan itu maka dari itu dukuhan tersebut dinamakan dukuh Bambang. Penduduknya kebanyakan berasal dari daerah Tulungagung. Penghasilannya melainkan bercocok tanam membuat emping mlinjo. Agamanya Islam juga.

 

Kemudian kita menunjau dukuh Karangsono

Pada mulanya dukuh Karangsono itu dinamakan dukuh Banaran karena dukuhan tersebut lebih tinggi letaknnya daripada kanan kirinya. Akan tetapi berhubung pada waktu itu dukuhan tersebut (dukuh banaran) belum lama didiami orang, maka penduduknya terserang penyakit demam hingga banyak yang tewas. Oleh karena itu dukuhan tersebut mengalami kejadian yang demikian maka dari itu orang-orang tua disitu lalu mengadakan musyawarah berbagai upaya mencari jalan supaya penduduk disitu selalu mendapat Bahagia. Tiba-tiba ada salah seorang yang berpendapat dukuhan tersebut diganti nama dukuh Karangsono. Karena dukuhan tersebut banyak tumbuh kayu Sono. Akhirnya pendapat tersebut di setujui oleh semua orang penduduknya.

Penduduknya kebanyakan berasal dari daerah Kabupaten Tulungagung, agamanya pun Islam juga. Kehidupannya bercocok tanam, sebagian kecil klentikan.

Selanjutnya kami uraikan tentang sebelumnya jadi/ ada jalan raya dari Siraman ke Kesamben ada Tahun 1923 masih melalui hutan rimba, menyebabkan disitu kerap kali ada penyamunan (Begal).

Berhubung dengan adanya kejadian kejadian tersebut, menyebabkan terbukanya hutan yang ditepi jalan raja, seluas lebih kurang 5 hektar oleh yang berwajib. Bukaan hutan tersebut dibagi bagikan kepada penduduk dukuh Bambang yang umpangan disuruh menempati tanah bukaan tersebut agar tidak ada penyamunan lagi.

Adapun orang yang mendapat bagian tanah tersebut sebanyak 25 somah. Jadi tiap-tiap somah menerima bagian tanah seluas 20 are, dan tidak membeli.  Hanya disuruh mengawasi orang-orang yang berjalan ditempat itu, dan tidak membeli. Hanya disuruh mengawasi orang-orang yang berjalan ditempat itu, serta mengawasi tanaman kayu dihutan, jangan sampai banyak orang yang mencukupinya.

Kemudian kami simpangkan ceritera ini kejaman Jepang.

 

VII. Jaman Jepang

Pada Jaman Jepang Desa Siraman diperbanyak menanam Kapas. Karena itu desa Siraman termasuk juara No II tentang hasil tanaman Kapas di seluruh daerah karisidenan Kediri. Akan tetapi penduduknya tak ketinggalan juga dikerjakan kemana-mana tempat. Misalnya ke luar Jawa, ke neyana (Popoh Tulungagung, ke gresik, ke Wonosari, Ke Jolosutro, ke kedungpuring Lodaya, ke Tapak dan lain-lainnya. Sudah tentu saja, kecuali penduduk desa Siraman banyak yang kena penyakit dan banyak yang meninggal dunia. Karena pada waktu itu tidak ada caranya orang sakit dibawa ke Rumah Sakit. Seakan akan dibunuh secara halus. Orang mati pada waktu Jaman Jepang jarang yang dikafani. Orang mati kebanyakan dibungkus tikar mendong. Jangan kan orang mati di bungkus kain, sedang yang masih hidup saja pakaiannya karung goni. So’al kutu (tuma) jangan tanyak. Tiap-tiap lubang anyaman karung itu ada kutunya. Besarnya hamper sama dengan beras. Laki perempuan bagi orang yang kurang mampu pakaiannya sama saja. Kathok goni tapal karung. Untung dijajah Jepang hanya 3 tahun. Umpamanya sampai 10 tahun mungkin kiyamat.

 

 

 

Jaman Jepang yang terakhir

 

Didukuh Bambang dibuat perlindungan untuk Jepang sampai beberapa tempat. Banyak sawah yang rusak dan jadi tanah kering dan pekarangan menjadi banyak batu.

Kemudian sesudah Pemerintahan Jepang sudah jatuh, perlindungan perlindungan tersebut lalu dikembalikan, tetapi tidak dapat tepat seperti semula. Menjadikan sawah di dukuh Bambang sebagian jadi tegal.

Jepang jatuh / kalah perang / karena di Negerinya, kota Nagasaki dan Hirosima di Bom atom oleh Amerika Serikat. Jepang menyerah tanpa sarat. Jepang di Bom Atom tanggal : 18-8-1945.

 

VIII. Gunung Kelud Meletus

Pada hari Jum’at Legi tanggal 31-8-1951 jam 7 pagi Gunung kelud meletus sehingga merusakkan daerah-daerah yang kena banjir pladu pasir dan batu.

Berkenaan dengan itu, sampai sebagian Penduduk di daerah Gandusari dan talon atau dari desa pasirharjo dan dari desa Soso yang perumahannya dekat sungai jalan lahar, banyak yang menjadi korban, kehilangan rumah dan tanamannya.

Selanjutnya oleh Pemerintah lalu di himpun dan diberi pertolongan tempat sebagai Pengungsen akibat lahar Gunung Kelud, sementara waktu (pada hari Rebo Kliwon tanggal : 26 Januari 1951. adapun tempat pengungsen tersebut ialah dihutan Brongkos desa Siraman.

Mulai waktu itu daerah Pengungsen tersebut serta jiwa Penduduk digabungkan di desa Siraman semua.

Oleh karena jiwa Pengungsen tersebut lebih kurang ada 250 orang, maka dari itu jumlah penduduk seluruh desa Siraman lebih kurang ada 3900 jiwa.

Pada tanggal 29 Sptember 1955 waktu diadakan pemilihan Umum untuk DPR, desa Siraman terbagi menjadi 3 tempat pemungutan suara (TPS) 1. Siraman I bertempat di Kelurahan, melayani seluruh pedukuhan Siraman kulon dan wetan kali. 2 Siraman II bertempat dirumahnya mbok Karyosetro Siraman, melayani pedukuhan Cimpling dan Bambang, 3 Siraman III bertempat didukuh Karangsono, bertempat di rumahnya Mbok Irontani untuk melayani penduduk dukuh karangsono dan dukuh Brongkos.

 

 

 

 

Adapun hasil-hasil suara yang diperoleh

Sebagai berikut

Nama TPS GPP Masjuni PKI NO Permai PNI
Siraman I 20 406 441 4 114
Siraman II 2 44 383 164 3 106
Siraman III 20 367 88 21 79
Jumlah 2 84 1156 693 28 299

 

Dan beberapa partai kecil yang tak berapa pendapatannya. Menurut angka-angka tersebut diatas, PKI lah yang mendapat suara terbanyak dalam desa Siraman.

Banyak penduduk pada waktu pendaftaran pilihan umum (Bulan Mei 1954)

 

Pemberhentian Kepala Desa Tahun 1969

Pada tanggal 27 Nopember 1968 Bapak Soerowidjojo Kepala desa Siraman mohon dengan hormat untuk meletakkan Jabatan sebagai kepala desa Siraman.

Maka akhirnya diijinkalah  permohonan tersebut dengan disaksikan oleh Rakyat Siraman semua, karena Bapak sudah usia lanjut.

Dengan adanya belas kasihannya Bapak-Bapak Tri Tunggal Kesamben dan semua Rakyat desa Siraman, maka Bapak Soerowidjojo diberi Pensiunan sawah (diambilkan dari Bengkok Kepala desa) ½ bau untuk selama masih hidup dan jika meninggal dunia, sawah dikembalikan kalau sudah habis seribu harinya.

 

Pemilihan Kepala Desa

Setelah ternyata Bapak Soerowidjoyo berhenti dari jabatannya sebagai kepala Desa Siraman, maka Pemerintah segara mengadakan rapat desa, merundingkan akan diadakan Pencalonan dan Pemilihan Kepala Desa. Hasilnya Rapat sebagai berikut :

  1. Pemberhentian Kepala Desa, oleh seluruh Rakyat desa Siraman diberi Pensiunan ½ bau sawah Bengkok.
  2. Pencalonan Kepala Desa Siraman
  1. Sdr Syuhadak dari Partai NO
  2. Sdr Riyanto dari anggota ABRI
  3. Sdr. Priyono dari Partai NO
  4. Sdr. Tjiptadi dari Partai Muhamadiyah
  5. Sdr. Soeharto dari Guru SD

Akhirnya ternyata pemilihan dengan hasil resmi terpilih oleh Rakyat Sdr. Riyanto dari Anggota ABRI sebagai Kepala desa Siraman.

 

KEADAAN DESA SIRAMAN PADA JAMAN

KEPALA DESA BP. RIYANTO

TAHUN 1969

Keadaan desa Siraman aman dan tentram

Pamong – Pamongnya.

  1. Kepala desa : Riyanto
  2. Carik : Koesmadi
  3. Kamituwo I : Rochani
  4. Kebayan I : Khoesni
  5. Jogoboyo : Misdar
  6. Modin I : Saudji
  7. Modin II : Maulan
  8. Kebayan II : Mustofa

Pada tanggal 24 Nopember 1969 desa Siraman mengadakan Rapat desa yang didatangi oleh Bapak Tri Tunggal Kesamben dan maksud rapat sebagai berikut :

  1. Berhubung Bapak carik desa Siraman merasa sudah tua, maka mereka mohon berhenti dengan hormat.
  2. Mengadakan pendaftaran Panitia dan calon-calon Carik desa Siraman.

Tetapi ternyata tanggal 8 Desember 1969 para calon Carik desa Siraman hanya dua orang :

  1. Soeminto dari anggota Hansip Dan Ru 1108/14 Kesamben. Tempat tinggal Siraman kulon kali
  2. Masturi dari anggota Orpol Muhamadiyah. Tempat Tinggal Siraman wetan kali.

Pemilihan carik dilaksanakan pada hari Rebo Pon tanggal 31 Desember 1969 di desa Siraman. Ternyata yang terpilih Sdr. Soeminto.

Hasil pemilihan :       1. Sdr Masturi     1254 suara.

  1. Sdr. Soeminto 1283 suara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanah Kuburan Wetan Kali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemilihan Kepala Desa Siraman

Pemilihan Kepala Desa Siraman dilaksanakan

 Pada hari Selasa Legi tanggal 15 Oktober 1988

 

Pelaksanaan Pencalonan dan Pemilihan

Kepala Desa Siraman

 

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati K.D.H Tingkat II Kabupaten Blitar tertanggal 28-12-1985 Nomor 699/1985, Sdr. Ngusman Riyanto umur 52 tahun dari unsur Purna ABRI (AD) diberhentikan dengan hormat dari jabatan Kepala Desa karena usia sudah lanjut. Dan jabatan Kades Siraman dijabat oleh Sdr. Rochani Pj (Kepala Dusun) Siraman.

Setelah itu selang + 1 tahun, desa Siraman diadakan pengumuman pendaftaran Bakal Calon kepala Desa Siraman. Dan yang mendaftarkan diri sebagai berikut :

  1. Sdr. Rochani Pj. Kades Siraman.
  2. Sdr. Subyanto Purna ABRI/Peltu Karangsono
  3. Sdr. Mudawari swasta Dusun Siraman Rt 13
  4. Sdr. Tjiptadi Peg. Swasta Dusun Bambang Rt 23
  5. Sdr. Muselim Karyawan Desa/Bendung Siraman
  6. Sdr. Muhanan Swasta Dusun Siraman

Berhubung Sdr. Rochani mencalonkan sebagai Bakal Calon Kades Siraman, maka Pjs Kepala desa Siraman dijabat oleh Sdr. Kepala Desa Siraman dijabat oleh Sdr. Soeminto, disamping melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris desa, juga mempersiapkan pemilihan calon Kades juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Kades Siraman. Ini sesuai SK Bupati KDH. Blitar nomor 92 tahun 1988. Diterimakan tanggal 22 Juni 1988.

Pada saat ini Bupati Blitar Bapak Siswanto Adi.

Sesuai pengumuman dan SK Bupati KDH Blitar yang dibacakan oleh pembantu Bupati Blitar di Wlingi, bahwa calon Kades yang lulus adalah :

  1. Rochani Siraman
  2. S. Soebyanto Karangsono
  3. Tjiptadi Bambang

Diumumkan pada hari Kamis tanggal 13/1988 di Balai desa Siraman dengan disaksikan oleh semua Bakal calon dan semua Perangkat desa Siraman serta Tokoh-tokoh Masyarakat desa Siraman, juga dihadiri oleh Muspita Kecamatan Kesamben dan staf.

 

Pelaksanaan pemilihan Kepala desa Siraman hari Sabtu legi tanggal 15 Oktober tahun 1988, bertempat di lapangan desa Siraman.

Dimulai jam 08.15 wib. Setelah diadakan undian calon kepala desa Siraman, maka hasil undian sebagai berikut :

  1. Sdr. Tjiptadi dengan simbol Pisang
  2. Sdr. Rochani dengan simbul Kelapa
  3. Sdr. S. Soebyanto dengan simbol Nanas.

Berhubung keadaan pada selesai Pemilihan dengan cara coblosan tanda gambar calon, maka hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang, akhirnya penghitungan kartu suara dipindah ke Balai desa. Pada waktu itu jam 14.30 wib dengan hasil suara sebagai berikut :

  1. Sdr. Tjiptadi simbul Pisang mendapat 618 suara
  2. Sdr. Rochani simbul Kelapa mendapat 1960 suara
  3. Sdr. S. Soebyanto simbul Nanas mendapat 1149 suara.

Sedang hak pilih terdaftar         : 4340 orang

Kartu tidak sah                          : 119 lembar

Yang tidak hadir                        : 221 orang

Pelaksanaan Pemilihan Calon Kades berjalan lancar dan tertip, tidak ada gangguan apapun. Dengan demikian, maka Sdr. Rochani alamat desa Siraman lah yang terpilih sebagai Kepala desa Siraman yang ke 7.

Demikianlah sekelumit Babat desa Siraman pada waktu itu tahun 1988. kami mohon (Penulis arsif ini) Bapak-Bapak Penerus Pamong desa Siraman bersedia menyambung Sejarah desa ini seterusnya.

Kemudian sampai disini tulisan kami, segala kekurangan kami tak lupa mohon ma’af yang sebesar-besarnya, dan ini konsep yang ke II. Buku yang pertama tulisannya sudah adak mblobor.

Sekian terima kasih.

 

Siraman, 14 Maret 2007

Kami

NB.

  1. Pengarang alm. Bp. Soerowijoyo
  2. Penulis Moedjiono
  3. Disambung Sdr. S.Soeminto (MOEDJIONO)

 

 

 

DAFTAR URUT PAMONG DK. SIRAMAN SAMPAI MENJADI DESA.

 

No Kamituwo No Kepala Desa No Carik/Sekretaris
1 Karyo Semito 1 Singowidjojo 1 Kasan Besari
2 Sokromo 2 Kasanbesari 2 ?
3 Noyokromo 3 Moeljohardjo 3 ?
4 Wongsokromo 4 Soredjo 4 Soemoprawiro
5 Singosemito 5 Soemoprawiro 5 Soerowidjojo
6 Kasanbahwi 6 Soerowidjojo 6 Koesmadi
7 Singowidjojo (Kades I) 7 Riyanto 7 S. Soeminto
8 Hamatengram 8 H.Rochani 8 Parnoto
9 Sastrobesari 9 H.Choiri
10 Tukijan 10 Eko Joko Susilo
11 Rochani 11 Budi Arif Rochman
12 Muselim
13 Purwadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAMBUNGAN HAL PERGANTIAN KEPALA DESA

 

Berhubung masa jabatannya sebagai kepala desa Bapak Rochani sudah habis, maka pada hari Selasa Legi tanggal 2 Desember  1997 atau tanggal 2 Ruwah tahun Jemakir, diadakan pemilihan Kepala desa lagi yang calon calonnya sebagai berikut :

  1. Sdr. Khoiri Siraman wetan kali
  2. Hadi Supiyanto Siraman kulon kali
  3. Soewardi Karangsono
  4. Muhtarom Siraman wetan kali

Maka dari itu, Sdr. Khoirilah yang berhak menduduki Jabatan sebagai Kepala desa Siraman yang ke : 8 tetapi sayang Sdr. Choiri menjabat sebagai Kepala desa Siraman baru dua tahun terburu wafat karena sakit mendadak.

Maka dari itu lalu pada hari Selasa paing tanggal : 16 April 2002 atau tanggal 3 sapar tahun Dal diadakan pemilihan Kepala desa legi yang calon-calonnya sebagai berikut :

  1. Sdr. Mastur Nabawi dari Siraman kulon kali
  2. Sdr. Ali Afandi dari Siraman wetan kali
  3. Sdr. Mustakim dari Bambang
  4. Sdr. Eko Joko Susilo dari Brongkos

Setelah pungutan suara, hasilnya yalah sebagai berikut :

  1. Sdr. Mastur mendapat 526 suara
  2. Sdr. Ali Afandi mendapat 877 suara
  3. Sdr. Mustakim mendapat 1339 suara
  4. Sdr. Eko Joko Susilo mendapat 1558 suara

Maka dari itu pemilihan kepala desa Siraman dimenangkan oleh               Sdr. Eko Joko Susilo dari Dukuh Brongkos dan jadi kepala desa Siraman yang ke 10.

Demikian uraian singkat ini semoga ada manfaatnya dan selamat menyambung.

 

Siraman, 15-3-2007

Penyambung

 

 

 

MOEDJIONO

 

Selanjutnya pada hari Ahad tanggal : 08  April  2012 atau tanggal …..   …… tahun ……. diadakan pemilihan Kepala Desa lagi yang calon-calonnya sebagai berikut :

  1. Sdr. AGUS SUCIPTO,SH Dsn.Siraman Krajan 01 Barat
  2. Sdr. BUDI ARIF ROCHMAN Dsn.Siraman Krajan 02 Timur
  1. Sdr. Drs.ALI AFANDI                      Dsn.Siraman Krajan 02 Timur

Setelah pungutan suara, hasilnya ialah sebagai berikut :

  1. Sdr. Budi Arif Rochman mendapat : 2.337 Suara
  2. Sdr. Drs.Ali Afandi mendapat : 1.186 suara
  3. Sdr. Agus Sucipto,SH mendapat : 745 suara

Maka dari itu pemilihan Kepala Desa Siraman dimenangkan oleh               Sdr. Budi Arif Rochman dari Dukuh Siraman Timur dan jadi kepala Desa Siraman yang ke 11. Masa bakti 2012  s/d  2018.

Demikian uraian singkat ini semoga ada manfaatnya dan selamat menyambung.

 

Siraman, 09-04-2012

Penyambung

 

 

 

SATORI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR URUT PAMONG SAMPAI MENJADI DESA SIRAMAN

NO NAMA

Kasun

MENJABAT

TH SD/ TH

NO NAMA

KADES

MENJABAT NO NAMA

SEKDES

MENJABAT
1 2 3 1 2 3 1 2 3
  Karyo Semito 1870 – 1873   Singowidjojo 1901-1903   Kasan Besari  
  Sokromo 1873 – 1876   Kasanbesari 1903-1919   ?  
  Noyokromo 1876-1880   Moeljohardjo 1919-1923   ?  
  Wongsokromo 1884-1890   Soredjo 1923-1931   Soemoprawiro  
  Singosemito 1890-1898   Soemoprawiro 1931-1949   Soerowidjojo  
  Kasanbesari 1898-1899   Soerowidjojo 1949-1969   Koesmadi  
  Singowidjojo (Kades I) 1899-1901   Riyanto 1969-1988   S. Soeminto  
  Hamatengram     H.Rochani 1988-1997   Parnoto 1991-sekarang
  Sastrobesari     H.Choiri 1997-2000      
  Tukijan     Eko Joko Susilo 2002-2012      
  Rochani     Budi Arif Rochman 2012-2018      
  Muselim            
  Purwadi 2005-